THE FIVETEEN 15 CLUB fiveteen15club.blogspot.com

Rabu, 18 Maret 2015

Makna dan Arti lagu LETTO

Siapa yang tidak kenal dengan letto band, Band yang bermarkas di daerah Kadipiro Jogjakarta. Pentolan band ini adalah Noe, anak dari Emha Ainun Najib. Beberapa postingan di beberapa blog memberi makna atas lagu-lagu Letto. “kesenian tidak bisa dilepaskan dari dunia spiritualitas. Bahkan, seniman lah spiritualis sejati” Apa yang dikatakan oleh Cak Nun ada benarnya. Coba bayangkan, bagaimana suatu lukisan bisa bernilai jutaan rupiah, padahal kalau dirunut dari bahan yang digunakan bisa jadi tidak lebih dari seratus ribu rupiah. Orang tidak melihat dari bahan material tersebut, tetapi dari apa yang di belakngnya, sesuatu yang abstrak, sesuatu yang spiritual. Spiritualitas tersebut juga dapat kita temu dalam lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para penyani Indonesia, meskipun merka tidak menyebutnya sebagai lagu religi. Sebagi misal adalah Dewa 19 dan Chrise (al-maghfur lah). Spirutualitas tersebut juga dapat temui di beberapa lagu Letto, banyak para penulis yang mencoba membedahnya dengan beberapa metode seperti metode Hermeneutika dalam menganalisis lirik-lirik lagu tersebut. Letto sendiri tidak mau terlalu menafsirkan lagu-lagunya. “We don’t want to control the meaning of our songs,” Baginya lagu-lagu Letto sangat terbuka untuk ditafsirkan oleh semua orang. Menurutnya Spiritualitas yang penulis maksud di sini adalah sufisme, atau ajaran esoteric Islam. Hal ini terkait dengan latar belakang Letto sendiri. Ada beberapa kata yang menjadi core dari lagu-lagu Letto. Cinta, kesunyain dan kerinduan. Seringkali Leto mengidentikkan hidupnya dengan kesunyian. Terkadang dia merasa ragu dalam perjalanan itu. Kadang dia meraba, mencari arah tujuan. Lihat saja lirik: Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa sepi Bolehkah aku mendengarmu Terkubur dalam emosi, tanpa bisa sembunyi Aku dan nafasku merindukanmu Terpurukku di sini, teraniaya sepi Dan kutahu pasti kau menemani… yeah Dalam hidupku, kesendirianku (Sandaran Hati, Truth, Cry and Lie) Lihat juga lirik lagu sebelum cahaya Ku teringat hati Yang bertabur mimpi Kemana kau pergi cinta Perjalanan sunyi Engkau tempuh sendiri Kuatkanlah hati cinta (Sebelum Cahaya, Don’t make me sad) Namun dalam kesepian itu, Letto mencoba mencari jalan, orientasi, arah yang akan di tuju. Pencarian itu bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi melalui derita. Namun derita itu tidaklah mengapa baginya. Keteguhanlah kuncinya. Ini sebagi pemenuhan janji primordial yang telah dipersyaksika oleh ruh kepada Allah, perjanjian akan pengkuan Allah sebagi Tuhan. Dengan demikian. Jadi dia mencoba untuk terus berdiri, berjalan menuju-Nya, karena Letto yakin, segala kesusahannya, segala resahnya akan hilang ketika bersama-Nya. Dari sumber lainnya juga juga ada yang meraba lagu ini bahwa secara keseluruahan lirik yang terkandung mencoba mengingatkan kita sama sholat lail : ”Sebelum Cahaya” Ku teringat hati yang bertabur mimpi Kemana kau pergi cinta Perjalanan sunyi yang kautempuh sendiri Kuatkanlah hati cinta Reff : Ingatkan engkau kepada embun pagi bersahaja Yang menemanimu sebelum cahaya Ingatkan engkau kepada angin yang berhembus mesra Yang kan membelaimu cintA Kekuatan hati yang berpegang janji Genggamlah tanganKu cinta Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri Temani hatimu cinta Back to reff Bait pertama lagu ini menunjukkan kalau Allah SWT selalu mengawasi kita. Allah melihat kita yang sedang tidur tiba-tiba terbangun, ...kita pergi untuk ambil air wudhu maka mengapa disana dituliskan kemana ”kau pergi...” kemudian kita menegakkan sholat malam, dalam kesunyian, sendiri ketika semua orang tengah terlelap ketika dingin sangat menusuk di tulang, ketika mata masih terkantuk-kantuk. Siapa yang sanggup untuk menjalankannya?? Butuh kekuatan hati untuk melaksanakan raka'at demi raka'at, lantunan. Ayat-ayat suci yang kita baca dan dzikir dengan penuh ketawadhuan. Inilah makna yang di temukan dalam baris ”perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri,kuatkan hatimu cinta”. Bait kedua, Allah ingin menentramkan hati kita, Allah mengingatkan bahwa kita tidak sendiri dalam menjalankan sholat Lail, lihatlah ada embun pagi yang selalu menemani kita hingga fajar muncul dari ufuk timur dan rasakanlah sepoi-sepoi angin di sepertiga malam, yang dengan sangat lembut meniup pakaian Shalat kita. Sungguh kita tidak sendiri saat sholat Lail ditegakkan. Dan mereka inilah yang dapat kita jadikan saksi di akhirat kelak. Bait ketiga menerangkan siapa yang punya tekad kuat tersebut? Untuk menegakkan sholat malam setiap hari, setiap malam. Dia adalah orang-orang yang selalu berpegang teguh pada janjinya terhadap Allah SWT. Janjinya bahwa dia kan selalu menjadikan Allah sebagai Illah dalam hidupnya Subhanallah... ternyata... . (Jalan Yang Hilang, Lethologica) Ketika kucoba mencari-cari Jalan yang hilang Aku tak peduli Apa kata orang Hanyalah untukMu Seluruh rinduku Harus kutemukan sekali lagi Jalan yang hilang Dalam mengarungi jalan sunyi ini, Letto yakin tidak akan pernah sendiri. tidak pernah manusia itu berada dalam kesndirian, karena pasti Tuhan kan bersamanya, manyaksikannya. Bahkan ketika manusia sudah sampai pada taraf sadar akan jagad kosmos, dia akan mendengar alam yang juka bertasbih kepa-Nya. Ingatkan engkau kepada Embun pagi bersahaja Yang menemanimu sebelum cahaya Ingatkan engkau kepada Angin yang berhembus mesra Yang kan membelaimu cinta (Sebelum Cahaya, Don’t make me sad) Sebelum cahaya menunjukkan satu waktu di mana ini juga mengungkapkan pada jalan sunyi seorang yang mengejar cinta. Dia ternyata tidak pernah terlepas dari cinta, bahkan Letto mengatakan bila dia lepas dari Cinta, maka dia akan hilang. Kehilangan ini menyiratkan akan kehilangan makna hidup, atau bahkan kehilangan eksistensi diri. Dari itu Letto menginginkan suatu kebersamaan selalu dengan Cinta. Di sinilah dia menginginkan agar dia selalui dihantui oleh Cinta. Rasa cinta yang mendalam, suatu perjalanan sunyi, keterikatan dan keyakinan pada janji ini kemudian mengguratkan kerinduan-kerinduan pada diri Letto. Rindu untuk kembali kepada Sang Azali, rindu untuk selalu bersama. Di sinilah kerinduan menemukan ruang. Kerinduan adalah satu petunjuk keberjarakan Letto dengan Cinta. Satu waktu jarak ini menemukan momentum pertemuan. Suatu penyaksian akan wajah Cinta. Pada pertemuan itu, Letto sendiri merasakan satu rasa yang tak menentu. Satu rasa yang aneh, yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. rasa ini bisa juga disebut sebagai keterkaguman. Keterkaguman Letto pada wajah Cinta yang Maha Agung. Dan diapun berkesimpulan, ku tak pantas memandangi wajahmu. Di sini sebenarnya dia telah hanyut terbawa oleh keterkaguman tersebut. Anatar profanisme, Sufisme dan kepekaan Sosial Letto menyadari bahwa dirinya adalah manusia bumi yang tidak bisa terlepas dari realitas sosialnya. Namun dia tidak ingin terseret dalam arus massa. Dia mencoba meihat dengan lebih jernih. Sebagaimana dia menafsirkan tentang cinta. Menurutnya, cinta yang dia maksud bukanlah sebagaimana cinta yang telah terkontaminasi oleh kepentingan, atau hanya cinta antara dua manusia yang berlawanan jenis. Sehingga pemahaman cinta dalam lirik-lirik agunya pun akan berbeda dengan pemahaman cinta dalam lagu-lagu musisi kebanyakan. Sepertinya hanyalah ada Memang aku tak setuju Dengan dirimu Tentang arti cinta Bukan hanya berdua Tetapi tentang semuanya (itu lagi-itu lagi, Lethologica) Kepekaan sosial Letto juga akan nampak pada lagu ku tak percaya. Lagu yang melihat kontes pemilihan umum dengan acara kampanyenya sebagai penghamburan katakata yang tak bermakna, hanya sebagai pelamis bibir saja. Kata-kata takkan pernah punya makna Takkan pernah punya makna Ketika hati tak bicara Jangankan kau berikan pada ku Mimpii surgama Jangan pernah kau tawarkan kepadaku Keindahan yang semu Tanpa itu aku mampu menjalani hidupku Dan kukatakan padamu Kata hatiku Ku tak percaya Kamu kah pahlawanku Yang mengaku orang nomor satu yang katanya mampu menghapuskan sedihku Kalau itu yangkau bilang Coba lai kau kumandangkan Janji-jani yang engkau banggakan itu (ku tak percaya, Lettologica) (Letto ~ Lubang di Hati) Ku buka mata dan ku lihat dunia ‘tlah ku terima anugerah dunia Tak pernah aku menyesali yang ku punya Tapi ku sadari ada lubang dalam hati Ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini Ku menanti jawaban apa yang dikatakan hati Apakah itu kamu apakah itu dia Selama ini ku cari tanpa henti Apakah itu cinta apakah itu cita Yang mampu melengkapi lubang dalam hati Lubang di Hati, Donat dan kekuasaan. Kita bicara tentang donat. Anda tahu apa itu donat? Donat adalah benda berlubang. Teksturnya kenyal. Rasanya nikmat bukan main…. dan disukai oleh kaum adam dan hawa…. Pokoknya bihedonik banget dah. Alkisah donat ini diciptakan karena suatu hal. Donat ini dibuat secara tak sengaja. Karena pada saat seseorang membuat roti dan terus mentah dalam (istilah dapur emak-emak) maka terbersitlah sebuah ide untuk membuang bagian tengahnya. Maka jadilah itu sebuah roti yang kini dikenal sebagai donat. Donat tanpa lubang mungkin kurang pantas bila dikatakan donat. Dari lubang-nya donat itulah kita bisa membandingkan antara orang optimis dan pesimis. Orang pesimis hanya melihat lubangnya dan orang optimis melihat donatnya. Tapi yang terbaik ialah yang bisa melihat donat sebagai kue bolong. Kehidupan mungkin dibaca sebagai itu. Karena ada suatu bagian yang kosong maka ia bisa disebut hidup. Lezat sebagaimana donat. Seperti Lagu Lubang di hati, Memang mungkin hati dari sononya diciptakan sudah berlubang.. untuk satu tujuan mulia. Donat juga demikian pula. Tampaknya ia jadi sebuah antitesis dari kekuasaan. Berbeda dengan kekuasaan yang orang selalu ingin berada dan mendekati pusat kekuasaan. Maka yang dicari pada donat adalah pinggirnya…. Gak ada yang suka sama bagian tengah donat. Meluhat salah satu Album Letto yang berbahasa inggris, Bukan sekadar "trend" dan gaya berbahasa Inggris "Ini adalah proses kreativitas yang mengalir jujur," ungkap mereka. Bahkan dalam musik mereka terselip khasanah etnik yang menghadirkan corak slendro dan pelog dalam permainan instrumen band modern. Hasilnya adalah sebuah karakter musik yang "asli" beda, namun tetap asyik untuk dinikmati. Simak saja lagu Sampai Nanti, Sampai Mati. Lagu itu bertutur tentang sikap optimis menghadapi hidup. Lirik : kalau kau pernah taku mati/sama./ kalau kau pernah patah hati/ aku juga iya/Tetap semangat/dan teguhkna hati di setiap hari/sampai nanti/sampai mati… Unik khan! Liriknya memang sarat dengan pesan positif, tapi bukan khotbah. Sebab gaya penyampaiannya tetap dalam tutur puitis. Tidak saja bicara tentang hidup, tapi juga cinta, patah hati, persahabatan bahkan tentang Tuhan. Seperti juga lagu Sandaran Hati yang liriknya jika disimak lebih jauh tidak saja berbicara tentang seorang kekasih, tapi juga sahabat bahkan Yang Maha Kuasa. Demikian juga dengan lagu I’ll Find Away yang percaya selalu ada jalan untuk mengapai angan. Dan simak juga yang lain seperti U & I, Insensitive, dan No One Talk About Love. Seluruh lirik Letto terkesan gentlement dan dalam banget. Lirik puitis tersebut, termasuk yang berbahasa Inggris seluruhnya ditangani oleh Noe salah seorang anak dari budayawan Emha Ainun Najib. Menurut dia, itu mengalir secara spontan dan alami. "Kami ini anak desa, tidak pernah berpikir yang muluk-muluk. Semua mengalir sesuai dengan kata bathin," ucapnya. Dia mengakui sebagian besar terinspirasi dari pengalaman pribadi. Untuk aransemen musik dikerjakan mereka bersama-sama. Tak heran jika masing-masing memberi pengaruh dalam setiap lagu. Alhasil akan terasa sedikit ramuan dari rock ala Led Zeppelin, J-rock ala Kitaro, punk rock, bahkan psikadelik. Ramuan unik itu setelah berpadu terasa begitu easy listening. Artinya, musiknya enak di kuping, nyaman di hati, namun juga bukan asal bunyi. Alhasil, kuping anda akan terbuai dalam nada-nada penuh rasa yang dalam. Hal itu didukung oleh karakter vokal Noe yang melankolis namun tidak cengeng. Bagaimana kita menyikapi Syair-syair indah letto ini, kita ambil nilai positifnya dari buah karya seniman yang juga seorang maupun kelompok sosial biasa. Semoga bermanfaat..... Sumber: berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar